UAS 2012.
When We Were Together
I have butterflies flying around inside my tummy when I’m with you
I hear bell chimes ringing blown by wind of spring when I’m with you
I hear blue birds singing up around the tree when I’m with you
I see rainbows appearing everywhere I go when I’m with you.
Potongan lagu di atas diambil setiap kalimatnya dari lagu Mocca-Butterflies in My Tummy.
9,5 Jam Menuju Pergantian
Dalam beberapa jam lagi, tahun 2011 akan segera terganti dengan tahun baru, tahun yang imajinatif dan penuh kontroversial, tahun 2012. Dalam beberapa jam pula, saya akan bertambah usia setahun mendekati angka keramat pergantian menuju kepala 2.
Dalam setahun ini, apa yang telah saya lakukan?
Saya ingat, setahun yang lalu, saya mengepos hal yang sama mengenai pergantian tahun. Di post itu saya uraikan panjang lebar mengapa saya sangat mengagumi tahun 2010 yang saya cintai dan apa yang saya harapkan di tahun 2011 ini.
Dan sekarang, dalam 365 hari tahun 2011, apa yang telah saya lakukan? Apakah harapan saya terwujud? Apakah 2011 sama seperti tahun 2010? Kenangan pahit, manis, suka, duka?
Tahun 2011 adalah tahun perjuangan. Memberi banyak pelajaran bagaimana mengenakan kacamata kehidupan dengan baik dan benar, bagaimana mengenakan pakaian keseharian agar menjadi baik di depan semua orang, dan bagaimana mengenakan telinga untuk mendengarkan cerita sesama. Tahun 2011 adalah tahun perjuangan. Dimana sebuah titik fase kehidupan dapat berputar dari seringai tawa dan pelupuk air mata. Tahun 2011 adalah tahun perubahan. Karena sekali lagi satu tahun terlewati dengan membantu menopang saya menjajaki tangga kedewasaan.
Jikalau saya menggambarkan tahun 2010 sebagai tahun yang indah, maka satu kata yang akan saya gunakan untuk tahun 2011 adalah perjuangan.
Selamat tinggal 2011, selamat tinggal usia 18.
Sampai jumpa di post tahun depan tentang 2012. Itu pun jika saya masih sanggup menikmati 365 lengkap. Amin.
Semoga panjang umur, sehat selalu untuk kita semua.
Kau Buatku Jadi Gila~
Well does he leave a little note to tell you you are on his mind?
Send you yellow flowers when the sky is grey? Heyy!
He’ll find a new way to show you, a little bit everyday
That’s how you know, that’s how you know!
He’s your love…
Apakah Anda pernah mendengar penggalan lirik lagu di atas? Jika belum, silakan dengarkan melodi riang dan ceria yang dinyanyikan oleh Amy Adams dalam film “Enchanted” yang berjudul That’s How You Know. Ya, kalo bisa dibilang, lagunya sangat sangat sangat menggambarkan perasaan seorang perempuan yang dilanda kegalauan karena dia sedang jatuh cinta dengan seorang pria, tapi ga tau apakah pria itu sebenarnya menyukainya atau nggak. Itu bisa disebut sebagai aktifitas galau tingkat akut dan sangat keliatan pada orang-orang yang sedang kasmaran.
Kasmaran? Apa itu kasmaran? Apakah semacam antimikroba yang dapat melindungi tubuh dari serangan bakteri? Bukan, jelas bukan. Itu hanya khayalan saya aja karena galau menjelang UAS. Kasmaran adalah perasaan senang dan riang gembira ketika kita mendapat sesuatu yang berbeda dari lawan jenis yang mendekati kita. Bisa berupa sebuah perhatian yang menunjukkan kita adalah seseorang yang spesial buat dia selain martabak favoritnya. Bisa juga dalam sebuah gerak-gerik tak terlihat, yang bikin dia semacam seperti polisi lalu lintas yang tiba-tiba ada di depan kita ketika ga bawa STNK atau ga pake helm pas naik motor, tak selalu terlihat tapi selalu bikin deg-degan. #eaeaea
Mungkin buat saya sendiri, kasmaran itu perasaan yang sangat berbahaya. Kenapa? Kasmaran dapat mengancam kesehatan jiwa Anda. Tiba-tiba lagi di jalan sendiri, bisa senyum-senyum sendiri karena mendadak kebayang sesuatu tentang si dia. Atau lagi ngeliat seseorang di suatu tempat, eh keingetnya dia. Padahal orang itu lebih mirip Mpok Nori daripada gebetan Anda, misalnya. Atau bisa juga lagi baca jurnal dan salah mengeja nama karena kata-katanya hampir nyerempet nama si dia #keterlaluan.
Intinya, kasmaran bikin Anda jadi orang setengah gila.
Mungkin ada yang gak setuju sama saya. Mungkin mereka lebih senang menyamakan orang kasmaran sama dengan orang gila. Memang kadar gilanya beda-beda sesuai kepribadian asli kita. Tapi tak apa.
Sebenernya post ini saya tujukan untuk salah seorang teman saya yang mengalami kejadian kasmaran untuk yang pertama kalinya. Maaf saya ga sebut nama karena ini bisa jadi sebuah prestasi, bisa juga jadi berita. Hahaha. Jadi buat dia, ini saya kasih satu slogan yang mungkin bisa jadi prinsip dalam PDKT.
“Kentutlah sebelum kau dikentuti.”
Intinya, jangan pernah jaim di depan si dia. Berikanlah kentutmu sebelum kamu menyesal kentutnya dia bau.
Kalo masih galau juga, terusin nyanyi lagu di atas ketika bertemu dia dan katakan:
You’ve got to show her you need her
Don’t treat her like a mind reader
Each day do something to need her
To believe you love her
Salam kasmaran,
with love from Z.
Ah, Yes, It’s A Love Song
We’ll be holding hands once again
All our broken plans I will mend
I will hold you tight so you know
It is love from the first time I pressed my hand to yours
Thinking, “Oh, is it love?”
Oh, It Is Love, Hellogoodbye
Christmas Happiness
“I’m not a Christian, but I also feel the joy and glory every Christmas. Happy Christmas Eve.”
Kata-kata di atas adalah tweet seorang teman yang di post di timeline saya sehari menjelang natal. Yep, it’s December 24th, sehari sebelum natal, waktu dimana seluruh umat Kristiani bersorak sorai bergembira menyambut datangnya perayaan ini. Waktu dimana tante, oom, kakak-adik sepupu, pakde, bude, dan kawan-kawan saya bergembira dan merayakan sukacita dibawah rindangnya kebahagiaan dan gelak tawa.
Ah, saya rindu.
Pohon natal, lagu natal, kue natal, liburan natal…. semua terasa nyata untuk saya. Kembali lagi seperti tweet di atas. Saya seorang muslim, tapi saya ikut merasakan kebahagiaan natal. Mengapa? Setelah saya telusuri, jawabannya hanya ada satu: saya berbahagia ketika orang-orang yang saya sayangi bahagia. Saya bahagia ketika melihat mereka tertawa, bersenang-senang. Saya bahagia.
Ternyata, hal sesimpel itu yang bisa membuat kerukunan antar umat beragama menjadi sedemikian dekat dengan kehidupan saya dan mungkin orang lain yang mengalami hal yang sama seperti saya.
Jadi, mari berbahagia!
Merry christmas!
Ya, Ini Puisi Patah Hatiku.
Mencoba untuk tidak peduli itu salah, karena tidak ada yang tahu kapan kamu sebenarnya peduli dan kapan kamu sebenarnya menginginkan untuk tidak peduli.
Mencoba untuk tidak tahu juga salah, karena kamu benar-benar akan ingin tahu saat kamu tidak tahu.
Mencoba untuk tidak suka, tentu salah, karena kamu tahu kamu memang suka dan kamu tidak tahu kapan kamu tidak suka.
Seandainya kamu mencoba jujur, mungkin, kamu tahu kamu ada di pihak mana. Berpijak dimana. Kamu siapa. Dia siapa. Siapa kalian. Siapa wanita itu. Siapa lelaki itu. Ada apa dengan kamu. Ada apa dengan dia.
Seandainya kamu mencoba jujur, mungkin, dia tidak perlu merusak hatimu sedemikian kencang.
Hanya seandainya.
Motor Mogok di Malam Minggu
Pertama-tama karena ini adalah tanggal 17 Desember 2011, saya ingin mengucapkan selamat ulang tahun untuk mama tercinta yang ke-41
segala doa telah saya panjatkan untuk mama, karena kebetulan ga ada lagi yang bisa saya kasih di hari kelahirannya ini selain doa yang tulus dari anaknya yang ada di tanah orang. Pokoknya wishlist udah di tangan Allah ya ma
Oke then, back to topic. Ini adalah hari Sabtu random di ujung tahun. Kenapa? Kronologisnya begini. Berhubung sudah akhir tahun, dosen-dosen memberikan bonus akhir tahun kepada kami mahasiswa berupa tugas-tugas yang menumpuk menyenangkan! Jadi saya dan 6 orang lainnya yang kebetulan satu kelompok berencana mengerjakan 2 tugas sekaligus seharian penuh. Kami mulai janjian jam 9 pagi teng untuk ngerjain di kosan saya. Seperti biasa kalo nyebutnya jam 9 maka akan dimulai jam 10. Kemudian mereka semua ribut karena laptopnya ga ada satupun yang bisa nyambung sama wifi di kosan saya. Setelah melantunkan bait “kemana kemana kemana….~” akhirnya kami memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang kira-kira bisa wifi-an dengan nyaman dan aman. Ada 3 pilihan yang kami rasa berpotensial: 1) FK, 2) perpus kampus, dan 3) salah satu cafe di Malang. Pilihan pertama jelas dicoret karena kami: 1) bosan 2) tidak ingin diusir karena memakai jeans (FYI, fakultas saya mewajibkan mahasiswanya berpakaian kemeja dan bawahan celana/rok kain. Trims). Pilihan kedua juga dicoret karena satu alasan, yakni mereka semua ingin mengerjakan tugas di pilihan ketiga. Akhirnya kami memilih salah satu cafe yang dekat dengan kosan saya. Ya ga deket-deket juga sih tapi lumayanlah.
Setelah 4 jam mengerjakan tugas di tempat nyaman dan ada wifi dengan hanya bermodalkan masing-masing segelas minuman saja, kami harus segera pulang karena perut sudah keroncongan dan hari mulai menjelang sore. 4 teman saya yakni Faza, Devina, Tyas, dan Via (selanjutnya disebut Geng Hunyi) adalah anak-anak asli Malang, jadi mereka ingin merasakan makanan non-rumahan (baca: warteg) selagi sedang bertualang ke daerah anak kosan. Karena di dekat cafe itu ada McD jadilah mereka akhirnya mengajak saya, Arin, Pipit, dan Cangi makan disitu. Baiklah akhirnya kami mengiyakan. Tapi sayang Via dan Pipit harus duluan pulang karena ada urusan, jadi tinggalah kami ber6 dengan hanya sisa 2 motor saja.
Selesai makan, kami kebingungan dan kembali melantunkan bait “mau dibawa kemanaa teman-teman kitaaa…” ada 6 orang dengan hanya 2 motor membuat kami kepikiran untuk cenglu alias bonceng tilu alias boncengan bertiga masing-masing motor. Tapi niat itu akhirnya tertunda karena alasan masih ingin hidup. Akhirnya kami sepakat bahwa saya dan Tyas akan menunggu di McD, sementara Faza akan mengantar Cangi ke kosan temen SMAnya di belakang McD dan Devina nganterin Arin ke kos saya. Semua berjalan lancar sampai akhirnya hujan gerimis turun dan mulai membasahi aspal serta membuat hidung saya tersumbat lantaran cuaca semakin dingin. Faza akhirnya datang menghampiri saya dan Tyas dengan mio merahnya yang menjadi cerita.
Karena penasaran, saya, Tyas, dan Faza ingin coba gaya cenglu tadi. Sayangnya kami hanya berani sampai jarak dekat saja dan akhirnya memutuskan untuk menunggu Devina kembali mengangkut saya. Motor Faza si mio merah akhirnya diparkir di depan pos satpam terdekat. Ketika mau mindahin motor, eh do do eh, tiba-tiba motornya ga mau nyala. Dari yang tadinya ketawa-ketawa, kami bertiga cuma bisa bengong dan meyakinkan ini motor ga kenapa-kenapa. Devina akhirnya datang dan dia mencoba menyalakan juga tapi tetap enggak bisa. Saya yang ga ngerti apa-apa juga hanya bisa ngebantu ngegas dan ga ada hasilnya. Selama hampir 45 menit ke depannya, Devina dan Faza ganti-gantian mencoba mengengkol (hmm oke saya ga tau bahasa Indonesianya yang bener apa) dengan diiringi rintikan hujan. Kami juga sempet nanyain bengkel di sekitar situ tapi ga ada yang ngerti (-__-) dan beberapa orang bapak-bapak juga sempet bantuin tapi tetap ga bisa. Setelah sedikit hopeless akhirnya kami semua mencoba mengira-ngira siapa temen cowok yang ngekosnya di daerah situ. Kemudian setelah dikira-kira jawabannya ternyata nihil (ngok). Alhasil kami menelepon beberapa teman dekat kami yang sekiranya bisa dimintai bantuan. Kami juga sampe nelpon Cangi untuk mintain bantuan ke temen cowoknya. Saya pun akhirnya menelepon si Uda Habyb dan dengan baiknya akhirnya dia berinisiatif untuk datang menghampiri kami dan mengajak serta temennya yang ngerti tentang mesin-mesinan.
Setelah dicoba dan dicibi akhirnya temennya Habyb berujung pada satu kesimpulan bahwa si mio merah harus dibawa ke bengkel. Faza ngangguk lemah dan kita semua berterima kasih pada orang-orang yang datang membantu kita. Perjuangan ga berakhir sampai di situ. Karena bengkel baru buka besok, jadi motor Faza harus diinapkan semalam di kosan seseorang. Kami pun kembali melihat daftar kontak temen-temen yang ngekos di sekitar situ. Karena enggak ada yang bisa dihubungi atau tempat kosannya ga bisa ditaro motor, dengan pasrah kami menggiring si mio merah ke kosan teman SMA-nya Cangi. Untungnya ga ada yang patah semangat gara-gara insiden motor mogok ini. Kami semua malah menertawakan nasib yang agak ngenes di malam minggu. Em, oke, kami semua jomblo sedang tidak ada pasangan. Jadi bisa dibilang peristiwa ini agak sesuatu banget di hari yang (katanya) sakral buat orang pacaran. Setelah cipika-cipiki dan berkenalan dengan teman SMA Cangi, kamipun pulang dengan muka lusuh, rambut lepek, dan tas ransel berat berisi laptop. Sejenak mendoakan semoga motor Faza si mio merah bisa nyala lagi setelah masuk ‘rumah sakit’ besok.
Dear mio merah Faza, terima kasih sudah membuat cerita lain di hari Sabtu ini.
Tertanda,
kami.
Kerajaan Gombal
Kegiatan mengoleksi ini diinspirasi dari kegiatan paling nggak penting sedunia hasil bbman dengan salah seorang teman saya yang berkuliah di fakultas teknik. Pada waktu itu dia sedang di jalan pulang dari Semarang pasca menghadiri perkumpulan anak penerima beasiswa (yeay). Mari kita mulai.
#1 Kenapa sih bang pelangi itu warnanya mejikuhibiniu? | Soalnya kalo buatku pelangi itu mejikumaukamu
#2 Kenapa sih bang tentara itu bajunya loreng-loreng? | Soalnya kalo buat kamu bajunya jadi lope-lope
#3 Kamu tau gak kenapa 1+1=2? | Soalnya kalo aku + kamu sama dengan cinta
#3 Bapak kamu hobinya mancing ya? Soalnya kamu berhasil mancing cintaku
#4 Bapak kamu dokter penyakit dalam ya? Soalnya kemarin aku rontgen, dokternya bingung ada nama kamu di dalam tubuhku
#5 Kenapa sih cabe rasanya pedes? | Soalnya kalo yang manis itu eneng
#6 Kenapa sih mereka napsu banget ngejar bolanya bang? | Kalo abang sih lebih napsu ngejar eneng
#7 Bapak kamu namanya Agung ya? Soalnya kamu telah melukiskan pelangi di hatiku
#8 Kadang abang takut neng, kalo ngobrol sama eneng | Kenapa bang? | Abang takut Tuhan marah karena terlalu lama ngobrol sama bidadarinya
#9 Bapak kamu penemu google ya? Soalnya segala yang aku cari ada di kamu
#10 Bedanya kamu sama komodo apa? | Apa bang? | Komodo berhasil jadi nominasi 7 keajaiban dunia, kalo kamu berhasil jadi 7 keajaiban di hidupku
~the end~
Jangan Pecicilan Di Ruang Umum
Oke. Jadi hari ini adalah tanggal 1 Desember, jatuh di hari Kamis ‘ceria’, dan… Deng dereng deng deng, besok sudah kembali menjadi hari JUMAT!! Ya, hari Jumat saudara-saudara, dimana pada umumnya (atau sepantasnya) setiap bangun pagi saya selalu berleyeh-leyeh di kasur lalu menyalakan lagu Thank God It’s Friday-nya RAN atau Mbak Katy, yang entah kenapa belakangan ini kok terdengar sangat ceria di telinga saya.
Time flies so damn fast, huh? Rasa2nya baru kemarin saya melewati hari Jumat kelabu minggu lalu, melewati weekend di Batu, kuliah pagi di hari Senin, praktikum, tidur, kuliah, belanja kebutuhan, pulang tidur, kuliah. Dan seterusnya. Et cetera. Oke wait, kenapa Jumat lalu saya bilang kelabu? Tentu kelabu tidak akan datang tanpa didahului senja atau bahkan mendung menjelang hujan. *eak*
Jadi ceritanya pada hari Jumat itu, Pipit, salah seorang teman dekat saya yang berasal dari Mataram (Lombok) berwacana ingin jalan-jalan berempat dengan saya, arin dan cangi. Didasari oleh kalimat “kita kan udah lama ga jalan bareng,” maka kami semua menyetujui akan makan malam bareng setelah kuliah super padat di hari Jumat.
Nyatanya, karena ada tugas dari dosen YANG HARUS DIKUMPULKAN MALAM ITU JUGA, kami harus puas nongkrong di kosan saya mulai pukul 5 sore sejak pulang kuliah sampai jam 8 malam. Wacana di pagi hari pun menjadi gagal total. Tetapi karena saya dan Pipit keukeuh mau makan bareng karena kalimat dasar di atas, akhirnya kami memutuskan untuk makan bareng di sebuah kedai nasi goreng lumayan dekat dari kosan saya. Cangi yang rekomendasi tempat itu. Arin cuma bis manggut-manggut lantaran perutnya udah keburu mati rasa saking lapernya.
Sampai disana, kami terpaksa duduk bareng dengan sepasang sejoli yang sedang merajut cinta karena tidak dapat tempat duduk, wajah-wajah sudah kelaparan, dan tidak punya alternatif makanan lain selain nasi goreng Pak Kiting (langganan depan kosan) atau McD (nyebutnya dengan gaya mahasiswa sok kaya). Kami mencoret dua tempat alternatif tadi karena: 1) Makan nasgor Pak Kiting harusnya bisa sejak awal kita ngerjain tugas, ga usah nunggu sampe jam 8! 2) McD adalah sebuah barang mewah di akhir bulan. Jadi, duduklah kami di meja berenam.
Kejadian spesial bermula saat saya mulai ngobrol-ngobrol sama Pipit sambil nunggu pesanan kami datang. Sambil sesekali balesin sms dan bbm, kami berdua ketawa-ketawa (entah ngetawain apa), dan tiba-tiba……. Gedubrak!!! Suara kursi jatuh, semua orang menengok ke arah saya, dan saya hanya bisa keheranan melongok ke atas sebab langit-langit tempat saya bernaung adalah kolong meja. Ketiga teman saya sibuk tertawa, mbak-mbak pasangan di depan kamipun mukanya udah kaya orang nahan kentut tapi ga bisa dikeluarin, dan mas-masnya masih bergaya sok cool. Saya terbengong selama kurang lebih, ya, 10 detik, lalu berdiri dengan muka sok tenang. Saya membetulkan kursi dan duduk (dengan hati-hati), lalu kemudian tertawa dengan muka semerah anak babi. ‘Die aja lu zah, malu-maluin martabat sendiri’ saya sibuk mengutuki ketidakseimbangan saya dan mulai menyalahi sandaran kursi yang letoy. Saya menundukkan kepala dan menenggelamkan kepala saya di antara selak tawa bahagia ketiga teman saya. Untuk menambah usaha menjaga muka supaya ga keliatan malu-maluin, saya sibuk sms si geje Habyb dan bbman, biar dikira orang saya orang sibuk (oke ini usaha gagal banget). Dan hingga menit ketiga pasca saya jatuh saya masih belum bisa berhenti ketawa nahan malu.
Oke pelajaran yang bisa kita ambil disini adalah:
1. Jangan ngerjain tugas kelompok setelah kuliah yang memabukkan yang baru pulang jam 5 sore
2. Kalopun terpaksa, refreshing bentar
3. Jangan pecicilan di tempat makan, berhati-hati pada sandaran kursi yang Anda duduki
4. Selalu punya teman berbagi saat duka dan malu menyerang Anda
Terima kasih atas perhatian Anda.
Mama, I’m in Love With A Criminal
But mama I’m in love with a criminal
And this type of love; isn’t rational, it’s physical
Mama please don’t cry, I will be alright
All reasons inside
I just cant deny, love the guy
Britney Spears, Criminal
Memandang Sekeliling
Novel. Aroma coklat. Dedaunan basah. Langit gelap bertabur bintang. Hembusan angin malam. Tawa. Canda. Hembusan nafas di cermin lemari baju. Sentuhan kecil. Memori. Sapa. Cerita. Berita.
semudah itu bahagia datang dan menghampiri sekuntum jiwa kesepian di ranah rantau.
‘Tolong!’, Aku Berteriak Pada Bayangan Cermin di Hadapanku
Pada suatu ketika, aku berdiri. Sebelah diriku menginginkanku berdiri di sebelah jendela.
Ia berujar, ‘biarkan angin dari sela-sela lubang kecil itu membawa pergi aku sekalian’
Aku melakukan penolakan, tubuhku kaku hingga tak bisa bergerak. Seluruh kerja sel saraf mendadak padam, mematikan aliran listrik yang menggerakkan jantungku.
Aku menggelengkan kepala dan tertawa sinis kepadanya. ‘Setelah semua ini terjadi kau tinggalkan aku sendirian disini menghadapi itu semua, eh?’
Sebelah diriku yang lain menginginkaku bertekuk lutut dan berpasrah. Namun aku pun menolak.
‘Aku letih memohon’ ucapku lirih hampir tak bersuara. Rasanya aliran listrik itu belum datang sepenuhnya padaku.
Dua bagian diriku kebingungan dan seolah-olah menyalahkanku atas keheninganku.
Aku berpikir. Berpikir sangat keras, sendiri. Karena kawan yang mengaku kawan tak bisa datang disaat ini.
Aku mendengus kesal karena tidak menemukan jawaban.
Malang, 23 November 2011 8:40 PM







